Selasa, 27 Januari 2015

Randomnya Kamu


Tak tahu harus kumulai dari mana. Berawal dari minggu pagi, aku terbangun. Kaget sekali. Bahwa semalam aku memimpikan dia bersama nona. Mereka datang mengunjungiku berdua. Tampak asik. Aku, entah dimana. Tampaknya terselamur oleh keadaan.
Lalu kurasa kisah ini mencair sejak pertemuan singkat kita beberapa hari lalu. Dia sedikit bercerita tentang studinya. Dan pada senin sore, aku bisa bersamanya lebih lama dalam rangka membantunya. Tak banyak yang kita bcarakan, hanya saja percakapan-percakapan yang menjurus pada studi dan researchnya. Hingga adzan menyapa, aku terburu pulang. Dan dia bertanya singkat tentang studiku. Aku hanya menjawab sekenanya. Tak banyak ku gubris. Langkahku mejauhinya, meninggalkannya untuk sholat, dan dari ujung dia berbicara sedikit keras.
“Wisudanya dimundur aja, biar aku bisa dateng ke wisudaanmu”
Dan kujawab dengan tawa yang sebenarnya jengkel. Ternyata dia tidak lupa, percakapan kala akhir Agustus lalu. Tentang dia yang tengah berusaha menyemangatiku tatkala aku berjuang dengan skripsiku. Dia juga seolah berjanji, akan membawakan bunga untukku.
“November, kan? Cepet wisuda ya, nanti aku bawain bunga. Kan pas itu aku belum punya pacar”
Ingatku dengan kalimat itu. Hangat. Sehangat genggaman singkatmu kala itu pula. Kala itu, aku tersenyum dan jantungku seolah copot.
Sudah lama memang aku tak bercakap dengannya, bahkan bergurau berdua. Tak kupungkiri ada rindu yang menyeruak dihati. Tetapi, sebuah kalimat kala pertengahan November seolah menamparku. Hal itulah, yang membuatku menjauh sejauh samudra dan gunung. Ya, terpisah bak angin topan menyerbu diantara kami.
Pagi ini, ada rasa jengkel dalam hati saat  melihat pesanku tampaknya tak dibaca olehnya. Namun, tiba-tiba dia menghubungiku. Reflex jemariku menggetikkan kalimat yang sedikit meninggi. Kalimat-kalimat berikutnya yang tampaknya menamparnya perlahan. Kalimat itu adalah rangkaian dari sesaknya kemelut dihatiku yang mengganjal tak bisa dikeluarkan untuk beberapa waktu silam. Kalimat yang akhirnya membuatnya menyadari sesuatu akan aku. Dan pada akhirnya kalimat terpanjangku, tak berbalas olehnya, namun setidaknya dia membacanya.
Siang ini lebih tak terduga saat seorang teman menceritakan bahwa ada orang yang bertanya tentang aku dan dia. Orang itu menyanyakan tentang kami untuk memastikan sesuatu terkait sebuah rasa tertarik dari temannya. Ya begitu membingungkan. Dia bertanya kala November akhir, saat aku mengendur. Dalam pikiranku, dari mana kabar kami yang dekat hanya beberapa bulan, lalu tersebar keantar berantah. Yang kutahu ini pasti bukan nona, karena kami pernah saling menyapa. Mendengar kabar ini, aku tertawa pilu. Tak menduga. Sekaligus sedih bahkan miris. Tapi sudahlah.
Sore ini, diantara kami tampaknya lebih baik. Kurasa ia juga berusaha mengajak bercanda. Aku terhibur dengan beberapa tingkah anak asuhnya. Ya dia kembali mengejekku dengan muka annoyingnya. Dia juga berusaha mengajakku sholat berjamaah. Mungkin karena kejadian pagi ini.  Atau karena moodnya sedang baik. Entahlah. Aku bersyukur saja atas ini.
Entah bagaimana esok, mari berperan sebagai lakon lakon yang baik. Yang kupahami saat ini, tiada kebaikan yang tak berbalas. Allah tahu siapa yang membutuhkan ataupun tidak. Allah juga punya tujuan saling menempatkan diri kita dikehidupan orang lain. Aku bersyukur :”)

2 comments:

Insani H. Zulfa mengatakan...

cieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

Agustin Pratiwi mengatakan...

apa sih kamu cie ciee ajaaa..
({})

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com