Selasa, 30 Desember 2014

Lucu

Hahaha pengen ketawa deh untuk beberapa silly thing and moment that i have pass. Sepertinya ini adalah sebagian proses dari belajar untuk ikhlas. Yang pada akhirnya jadi sesuatu kekonyolan yang lucuk lalu tercetus tawa.
Lucu aja gitu untuk kita yang dulu pernah dekat lalu saling menjauh menjaga jarak bukan untuk merasakan rindu. Namun untuk menjaga apa yang ada tetap sendiri tak menyatu. Lucu kalo diinget inget, dulu ketawa cerita ini itu bahkan sampai gesture tubuh berbicara, lalu kemudian mendadak dingin seolah ada angin lesus muncul diantara kita. Lucuk.
Lalu beberapa hari ini lebih lucu lagi. Berpapasan dengan sesorang, yang dulu saat saat seperti itu sangat dinanti. Namun sekarang, tak sedikitpun bergeming. Bahkan untuk saling menatap menyodorkan senyum saja tidak. Hahahaha. Yang lebih mengherankan adalah perjumpaan itu sering sekali terjadi. Mungkin kita berjodoh kah? Hahaha. Atau mungkin ada yang merindu. Ah, tampaknya Allah tahu siapa yang merindu lebih. Aku? Hahahahahaha. Ketawa aja deeeh :D

Senin, 29 Desember 2014

Syahdunya malam ini

Sore ini sedikit gerimis. Tapi langit menunjukkan keindahnya dengan semburat ungu jingga yang elok. Tak sempat kuabadikan.
Dan sore ini juga aku kembali bertemu dengan seseorang yang cukup mengisi hariku.
Menikmati sore dengan kekonyolannya dan tawa kami.
Dia menemaniku membeli bunga untuk teman yang akan sidang esok.
Dia hanya diam menunggu keribetanku memilih dan sesekali tersenyum.
"Besok kalo aku wisuda, kasih bunga ya, dateng ke GSP juga"
"Tenang tenang"
"Bener loh yaaa"
"Iyaaa. Nanti aku nyuruh si iii, tak beli kembang nanti biar dikasih kd kamu: 'nih mba kembangnya' hahaha"
"Haaaa ga mau. Aku maunya dari kamu."
"Halaaah paling juga tetep diterima"
Percakapan konyol tak jelas seperti itu berlanjut sampai kostnya tatkala bunga yang kupesan sudah jadi.
Dibawa pohon talo kami duduk menikmati kekonyolan lagi.
"Ya jeng, besok aku beli bunga wes, tapi aku nyuruh si iii yang ngasih, ok?"
"Huwaa ga mau. Udah to ga usah bahas lagi. Aku lagi jengel ma doi"
"Halaaah mau too"
Lalu dia menyambar bungaku. Mempraktekannya.
"Nih mba bunganya, selamat ya mbaa" ujarnya meniru temannya.
"Eh makasih ya, tapi ga usah aja. Aku udah dapet bunga dari temenmu si A" jawabku.
Hahahahaahaaa. Lalu tawa kami pecah.
Dia masih mencari mengapa aku bersikap menjauh begini. Maafkan aku belum bisa banyak bercerita padamu.
Tetaplah menjadi mr-one-call: easy-hang-out-and-laugh-for-me.
Youre so meaningful for me karena sifat konyolmu dan baikmu yang selalu melindungiku saat yang lain melihatnya secara berlebih.
Dan malam ini ditutup dengan gerimis yang membasahi muka yang lelah tapi kenyang tawa oleh kita, manusia yang berusaha acuh dengan lingkungan.
Selamat malam. Tetaplah sehat. Semoga studimu lebih baik kelak.
Gumawo.

Minggu, 28 Desember 2014

noona


(alm.) devi faralita - insani hubi - aku



Empat tahun mengenalmu, Insani Hubi Zulfa. Selalu ada tawa diantara kita. Kamu menjadi yang paling pintar diantara kami. Cukup bangga mengenalmu. Lalu pada tahun ketiga awal, kita sempat terpisah. Terpisah untuk hal yang konyol jika kita ini bersahabat. Terpisah karena sebenarnya kita masing-masing sedang sibuk dengan kegiatan kita. Hal hal yang ingin kita capai sebelu masa jaya kita berakhir.
Dan kita juga terpisah tatkala ada yang sedang dimabuk cinta. Merindu dekap hangat sesorang pria. Iya, hadirnya pria itu cukup memberi jeda yang tak ada henti mengburkan suasana.
Tatkala kita tak bertukar cerita sesering dahulu, aku dan lainnya berbagi kisah tentangmu. Tentang kerinduan yang sebenarnya merasuk dada kala itu. Rindu yang tak pernah menghampiri saat kita hampir bercakap tiap hari tanpa jeda.
Ya, karena hanya ada dia dan kalian yang lainnya.
Hingga, tahun 2014 ini semua tampak berputar lebih keras. Menyandungkanku kembali padamu. Atau sebaliknya. Meski hanya sekelebat ia tahu tentangku, dan aku tak banyak bercerita dengannya, tapi kau selalu ada untuk sekedar berbagi tawa menyembunyikan luka.
Ditahun ini pula, ia merasakan luka yang hampir sama rasanya dengan yang aku rasakan. Tersesaki oleh selimut yang tampaknya hangat, namun sebenarnya pengap.
Diantara duka lara itu, kami kembali merajuk. Saling meberikan kehangatan. Menutupi dengan tawa canda sangat renyah. Bahkan saling menyembunyikan air mata meski kami saling tahu air mengalir deras membasahi relung hati.
Banyak mereka yang datang mengusik ingin tahu. Tapi kami berusaha menghindar dengan segala sunggingan senyum agar tiada curiga bagi mereka. Untuk mereka yang ingin mengetahui lebih, kami hanya menertawakannya saja atas banyak kata dan mulut yang sering tak bisa dijaga dengan baik.
Diantara kesendiri kami, kami sekarang belajar untuk tetap berdiri menjadi diri sendiri dengan saling mengoreksi membenahi agar tiada jatuh pada lubang yang sama. Sejatinya kami wanita kuat untuk hanya sekedar terbelenggu pada kisah lama.  Ya kami saling menguatkan.
Terima kasih kamu tetap hadir meski kita telah terpisah sekian lama mengaburkan luka lara agar tiada orang yang tahu. Ya, kita sangat kuat ({})
 

Blog Template by BloggerCandy.com