Minggu, 28 Desember 2014

noona


(alm.) devi faralita - insani hubi - aku



Empat tahun mengenalmu, Insani Hubi Zulfa. Selalu ada tawa diantara kita. Kamu menjadi yang paling pintar diantara kami. Cukup bangga mengenalmu. Lalu pada tahun ketiga awal, kita sempat terpisah. Terpisah untuk hal yang konyol jika kita ini bersahabat. Terpisah karena sebenarnya kita masing-masing sedang sibuk dengan kegiatan kita. Hal hal yang ingin kita capai sebelu masa jaya kita berakhir.
Dan kita juga terpisah tatkala ada yang sedang dimabuk cinta. Merindu dekap hangat sesorang pria. Iya, hadirnya pria itu cukup memberi jeda yang tak ada henti mengburkan suasana.
Tatkala kita tak bertukar cerita sesering dahulu, aku dan lainnya berbagi kisah tentangmu. Tentang kerinduan yang sebenarnya merasuk dada kala itu. Rindu yang tak pernah menghampiri saat kita hampir bercakap tiap hari tanpa jeda.
Ya, karena hanya ada dia dan kalian yang lainnya.
Hingga, tahun 2014 ini semua tampak berputar lebih keras. Menyandungkanku kembali padamu. Atau sebaliknya. Meski hanya sekelebat ia tahu tentangku, dan aku tak banyak bercerita dengannya, tapi kau selalu ada untuk sekedar berbagi tawa menyembunyikan luka.
Ditahun ini pula, ia merasakan luka yang hampir sama rasanya dengan yang aku rasakan. Tersesaki oleh selimut yang tampaknya hangat, namun sebenarnya pengap.
Diantara duka lara itu, kami kembali merajuk. Saling meberikan kehangatan. Menutupi dengan tawa canda sangat renyah. Bahkan saling menyembunyikan air mata meski kami saling tahu air mengalir deras membasahi relung hati.
Banyak mereka yang datang mengusik ingin tahu. Tapi kami berusaha menghindar dengan segala sunggingan senyum agar tiada curiga bagi mereka. Untuk mereka yang ingin mengetahui lebih, kami hanya menertawakannya saja atas banyak kata dan mulut yang sering tak bisa dijaga dengan baik.
Diantara kesendiri kami, kami sekarang belajar untuk tetap berdiri menjadi diri sendiri dengan saling mengoreksi membenahi agar tiada jatuh pada lubang yang sama. Sejatinya kami wanita kuat untuk hanya sekedar terbelenggu pada kisah lama.  Ya kami saling menguatkan.
Terima kasih kamu tetap hadir meski kita telah terpisah sekian lama mengaburkan luka lara agar tiada orang yang tahu. Ya, kita sangat kuat ({})

1 comments:

Insani H. Zulfa mengatakan...

Yippy. mianhae yooo. untuk beberapa waktu bungkam kita. so many things happened in just two years. good luck on your final exam! kiss kiss

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com