Tampilkan postingan dengan label 30harimenulissuratcinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30harimenulissuratcinta. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Maret 2015

Berupaya Melalui Doa



Percayakah kau tentang kuatan Tuhan? Sesuatu yang tampaknya tak akan bisa dilihat dengan kedua bola mata, namun kisahnya selalu ada tersurat disetiap perjalanan manusia.
Percayakah kau tentang kekuatan do’a? rapalan beruntun yang tiada henti, sama, atau kadang berubah, yang hanya bisa diucapkan dalam hati. Rapalan harapan yang ditujukan akan sesuatu. Rangkaian kata yang kadang dibuat berlebihan.
Mendoa dibalik sujud.
Mengupayakan dengan caraNya.
Percayakah, bahwa setiap do’a akan dikabulkan disaat yang tepat?
Setidaknya percayalah. Menjadi percaya membuatmu menjadi optimis.
Bukankah Tuhan tak ingin makhluk ciptaanNya menjadi pesimis?
Merapal setiap asa untukmu dalam setangkup do’aku menjadi salah satu upaya yang harus dibuktikan.
Sabtu, 28 Maret 2015

Sudah Dekat (?)



Bagaimana jika itu kamu? Bagaimana jika kamu memang sudah dekat? Bagaimana jika aku tidak menyadarinya? Atau justru menerka keawang-awang nan jauh disana? Atau menahan pikiran bahwa itu memang kamu?
Aku tak tahu, (apakah) kita sudah dekat.
Banyak yang bilang jodoh itu dekat. Wallahualam.
Dan untuk beberapa waktu lalu kita terjarak oleh sesuatu.
Terima kasih kepada kamu-kamu yang tetap memberikan kabar. Menjawab dengan senyum. Dan menceritakan sebagian kisahmu.
Pergi berjuang membuat jarak, dan kembali bercerita pada pusat rindu.
Waktu yang akan menjawab dari segala jarak yang tak sengaja dibuat.
Tak lama lagi, aku rasa kamu sudah dekat.
Wallahualam :)
Selasa, 24 Maret 2015

Lost Stars

Please don't see
Just a boy (girl) caught up in dreams and fantasies
Please see me
Reaching out for someone I can't see

Take my hand, let's see where we wake up tomorrow
Best laid plans sometimes are just a one night stand
I'll be damned, Cupid's demanding back his arrow
So let's get drunk on our tears

And God, tell us the reason youth is wasted on the young
It's hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars trying to light up the dark?

Who are we?
Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me
If we're not careful turns into reality

But don't you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page, maybe we'll find a brand new ending

Where we're dancing in our tears


Kita tak akan pernah hilang.
Selama kita masih ingat untuk kembali padaNya.
Tuhan punya rencana tanpa perlu menjelaskan alasannya.
Bahwa kita kelak menemukan akhir yang baru dan tak terduga.
Selasa, 17 Maret 2015

Selamat Datang



Kudengar hari ini adalah hari kepulanganmu, ya? Selamat datang (kembali) dirumah. Ada mata yang tidak sabar menyangsikan sosokmu. Ada hati yang kaku menolak kepulanganmu. Ada pula mulut yang tak berucap mendoakanmu dalam perjalananmu.
Selamat kepadamu Pria Kedua atas kepulanganmu dari menimba ilmu di tanah bagian pulau Jawa yang lain. Semoga hanya manfaat yang diperoleh sampai tua, bukan justru kemudharatan yang tersisa. Semoga jejak yang kau tinggalkan disana dalam sebagai tanda langkah kesungguhan saat mendatangi sumber pengetahuan. Berhati-hatilah diperjalanan karena terkadang ada yang tak terduga datang menguatkanmu atau bahkan melumpuhkanmu.
Selamat menikmati perjalanan yang masih belum jelas kemana ujungnya. Semoga kau menikmatinya bersama siapapun yang menemani, jelas bukan aku. Jangan lupa sesekali bercerita dengan teman seperjalananmu tentang hal-hal yang kau lewatkan bersama, tapi tak usah libatkan aku. Saat kau sudah selesai menjajaki dunia mudamu, aku berdiri diujung pemberentian, bersiap menerimamu (kembali) dengan segala kau dan duniamu. Semoga Allah selalu meringankan langkahmu. Dan doaku selalu menyertaimu.
Minggu, 08 Maret 2015

Kepada Pria Kedua

Hari ini harimu, kan? Selamat ya.
Sudah kuucapkan melalui media chating dengan notifikasi read-nya jika kau sudah membacanya.
Selamat ya 23. 6 bulan lebih awal dariku. Semoga menjadi imam yang bertanggung jawab atas segala keputusanmu. Semoga tetap menjadi anak kebanggan bapak dan ibumu serta kakak perempuanmu. Allah akan selalu melindungimu dengan caraNya.
Diharimu, dimataku, tampaknya kau masih sama seperti dahulu.
Terima kasih ya. Mengujiku bab kesabaranku atas balasan pesan yang kutunggu. Aku yakin kau tak bermaksud begitu.
Sekali lagi selamat. Semoga esok hanya ada hangat yang bisa krmbali terjalin diantara kita. Meski aku tau, ada ia yang membutuhkanmu lebih dibanding aku :)

Jumat, 27 Februari 2015

Menikmati Hujan

Sesekali, datangnya hujan sebaiknya kita nikmati.
Seperti aku, siang ini, menikmati hadirnya.
Aku duduk menghabiskan hampir setengah jam menghirup aroma air diudara.
Tersenyum melihat orang orang riuh lantang menyiapkan diri saar tetesan air pertama turun.
Aromanya sesegar datangmu dipagi kala itu.
Mengaburkan lelah.
Menyejukkan siang.

Kamis, 26 Februari 2015

Tak perlu lagi



Saat semuanya bebeda,

Tak perlu lagi menunggu untuk sekedar menyunggingkan senyum,
Tak perlu lagi mempaskan diri agar sekedar berpapasan,
Tak perlu lagi mempedulikan berlebih,
Tak perlu lagi mengada-ada agar ditolong,
Tak perlu lagi menyisakan padahal tak ada kesempatan,
Tak perlu lagi berbebar berlebih saat ditatap,
Tak perlu lagi menanti jawaban dari pesan singkat,
Tak perlu lagi mengetuk hati yang terkunci rapat.

Jika ia masih tertinggal di dalam sana,
Biarkanlah.
Tak perlu kau siram lagi agar tumbuh.
Biarlah,
Ia kelak akan melayu terbakar masa.

Jika ia tak layu atau tumbuh.
Mungkin ia sedang tertidur, menunggu musim yang tepat.
Maka,
Simpanlah, dalam atmosfer doa.
Senin, 23 Februari 2015

Hujan


Saat hari-hari bergulir tanpa kata yang bergeming. Terselip pertanyaan yang ingin kulontarkan. Mungkin, aku pasti akan menanyakanmu bertubi-tubi, menjatuhi padamu seperti tetesan hujan. Dan kamu, pasti akan terdiam bahkan syaraf mata pun enggan bergerak. Seolah tertegun atas hujan tanya yang tak bisa kamu hindari.
Beruntunglah, Tuhan menghadirkan tadah menampung jawabmu. Jawabannya bukan darimu. Jawaban yang mewakilimu. Tuhan Maha Penyayang. Ia tak membiarkanku menunggu bibirmu bergerak. Ia begitu tahu betapa menyedihkan menghujani arang, yang hitamnya tak akan luntur terbawa air. Ia juga tahu bahwa sesungguhnya hujan ini begitu menyegarkan bagi lahan tandus yang sejatiNya sedang Ia persiapkan.
Hujan yang lebat kadang membawa angin, hingga tercipta badai. Memporak porandakan alam. Tapi selalu, penyejuk datang. Langit biru terpampang. Awan berarak. Hingga tercipta pelangi.

Kamis, 19 Februari 2015

Selamat Y

Ada yang datang mengusik dipagi hari.
Bercerita dengan penuh semangat.
Terdengar bahagia mencuat.
Terdengar balasan datar seolah dibuat buat.
Bahagia kah?
Mungkin hanya untukmu.
Oh kusumbang sedikit untukmu.
Tersenyumlah selebar pikiranmu.
Jangan tertunduk meratapiku.
Bahagiaku sudah tanpamu.
Semoga semesta merestui.
Hingga karbondioksida terakhir yang dihepaskan.

Minggu, 15 Februari 2015

Rasa

Sebuah rasa yang tak bertuan.
Ia ingin sekali pulang.
Ia ingin juga diakui sang tuan.
Berharap berlabuh.
Karena terasa lelah mengetuk pintu tuan.
Mengiba pada angin.
Yang hanya mengarahkan pada rindu.
Jika lusa tak jua bertuan.
Ia sirna.
Terhempas jalanan.
Dengan jejak langkah gontai.
Diatas tanah bertuliskan:
Tuan, tidakkah kau sudi membuka segala indramu agar aku bisa membaur?
Hening.
Nanar.
Lalu pupus tersapu masa.

 

Blog Template by BloggerCandy.com