Berupaya Melalui Doa
Sudah Dekat (?)
Lost Stars
Just a boy (girl) caught up in dreams and fantasies
Please see me
Reaching out for someone I can't see
Take my hand, let's see where we wake up tomorrow
Best laid plans sometimes are just a one night stand
I'll be damned, Cupid's demanding back his arrow
So let's get drunk on our tears
And God, tell us the reason youth is wasted on the young
It's hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars trying to light up the dark?
Who are we?
Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me
If we're not careful turns into reality
But don't you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page, maybe we'll find a brand new ending
Where we're dancing in our tears
Selamat Datang
Kepada Pria Kedua
Hari ini harimu, kan? Selamat ya.
Sudah kuucapkan melalui media chating dengan notifikasi read-nya jika kau sudah membacanya.
Selamat ya 23. 6 bulan lebih awal dariku. Semoga menjadi imam yang bertanggung jawab atas segala keputusanmu. Semoga tetap menjadi anak kebanggan bapak dan ibumu serta kakak perempuanmu. Allah akan selalu melindungimu dengan caraNya.
Diharimu, dimataku, tampaknya kau masih sama seperti dahulu.
Terima kasih ya. Mengujiku bab kesabaranku atas balasan pesan yang kutunggu. Aku yakin kau tak bermaksud begitu.
Sekali lagi selamat. Semoga esok hanya ada hangat yang bisa krmbali terjalin diantara kita. Meski aku tau, ada ia yang membutuhkanmu lebih dibanding aku :)
Menikmati Hujan
Sesekali, datangnya hujan sebaiknya kita nikmati.
Seperti aku, siang ini, menikmati hadirnya.
Aku duduk menghabiskan hampir setengah jam menghirup aroma air diudara.
Tersenyum melihat orang orang riuh lantang menyiapkan diri saar tetesan air pertama turun.
Aromanya sesegar datangmu dipagi kala itu.
Mengaburkan lelah.
Menyejukkan siang.
Tak perlu lagi
Hujan
Saat hari-hari bergulir tanpa kata yang bergeming. Terselip pertanyaan yang ingin kulontarkan. Mungkin, aku pasti akan menanyakanmu bertubi-tubi, menjatuhi padamu seperti tetesan hujan. Dan kamu, pasti akan terdiam bahkan syaraf mata pun enggan bergerak. Seolah tertegun atas hujan tanya yang tak bisa kamu hindari.
Beruntunglah, Tuhan menghadirkan tadah menampung jawabmu. Jawabannya bukan darimu. Jawaban yang mewakilimu. Tuhan Maha Penyayang. Ia tak membiarkanku menunggu bibirmu bergerak. Ia begitu tahu betapa menyedihkan menghujani arang, yang hitamnya tak akan luntur terbawa air. Ia juga tahu bahwa sesungguhnya hujan ini begitu menyegarkan bagi lahan tandus yang sejatiNya sedang Ia persiapkan.
Hujan yang lebat kadang membawa angin, hingga tercipta badai. Memporak porandakan alam. Tapi selalu, penyejuk datang. Langit biru terpampang. Awan berarak. Hingga tercipta pelangi.
Selamat Y
Bercerita dengan penuh semangat.
Terdengar bahagia mencuat.
Terdengar balasan datar seolah dibuat buat.
Mungkin hanya untukmu.
Oh kusumbang sedikit untukmu.
Tersenyumlah selebar pikiranmu.
Jangan tertunduk meratapiku.
Bahagiaku sudah tanpamu.
Semoga semesta merestui.
Hingga karbondioksida terakhir yang dihepaskan.
Rasa
Sebuah rasa yang tak bertuan.
Ia ingin sekali pulang.
Ia ingin juga diakui sang tuan.
Berharap berlabuh.
Karena terasa lelah mengetuk pintu tuan.
Mengiba pada angin.
Yang hanya mengarahkan pada rindu.
Jika lusa tak jua bertuan.
Ia sirna.
Terhempas jalanan.
Dengan jejak langkah gontai.
Diatas tanah bertuliskan:
Tuan, tidakkah kau sudi membuka segala indramu agar aku bisa membaur?
Hening.
Nanar.
Lalu pupus tersapu masa.